Sakit di Tengah Masa Corona dan Bayangan Akan Kematian

Tanggal 17 April kemarin saya sakit.

Itu adalah hari ke-18 saya sampai di rumah dan menjalankan isolasi mandiri di tengah masa pandemi Corona.

Subuh badan saya panas. Setelah sholat, saya minum obat penurun panas, lalu tidur berselimut tebal, dan berharap sehat lagi saat bangun.

Alhamdulillah paginya demam saya memang sudah turun, tapi badan masih lemas.

Mulai jam 8, saya memulai kegiatan seperti biasa mengikuti program Pengayaan Bahasa LPDP Online.

Awalnya sih masih normal-normal saja ya. Tapi lama kelamaan badan saya tidak enak lagi. Demam tinggi dan makin lemas. Kelas-kelas pun saya tinggal untuk istirahat tidur.

Dari situ saya memahami kalo saya ini memang benar sakit.

Bagaimana rasanya?

Bingung!

Gimana kalau ini ternyata Corona?

Dihitung dari jumlah hari karantina, walaupun sudah lewat 14 hari, tetap saja waktu sakit saya tidak jauh dari waktu itu.

Dan saya jelas punya riwayat perjalanan dari wilayah zona merah—di Jogja.

Belum lagi kalau benar Corona, saya juga khwatir ada potensi penyakit ini menyebar ke ibuk dan mas saya. Mereka beberapa kali memegang kening saya untuk mengecek suhu (sebelumnya kami tidak ada kontak fisik sama sekali).

Karena kekhawatiran Corona ini, akhirnya saya memutuskan untuk istirahat total.

Tambah makan banyak (saya banyak-banyakin), tambah buah, tambah suplemen, dan semua hal yang mungkin bisa meningkatkan sistem imun.

Jika biasanya saya mengisi waktu dengan duduk di depan laptop untuk entah mengerjakan apa, kali ini saya stop.

Stop. Kali ini harus istirahat. Terlalu berbahaya kalau dipaksakan.

Jadinya saya tiduran di kasur selama mungkin, mengosongkan pikiran agar tidak ada beban.

Hari Sabtu

Hari Sabtu, demam saya sudah cenderung hilang. Kondisinya lebih mending daripada hari sebelumnya.

Yang jadi masalah, entah bagaimana, tubuh saya rasanya benar-benar remuk.

Pegal sana sini. Ngilu. Nyeri. Terutama di bagian bawah pundak yang terkoneksi dengan tangan. Dipakai tiduran pun makin sakit.

Karena itu, hari Sabtu saya lebih banyak duduk di kasur—alih-alih tiduran, untuk mengurangi rasa nyeri itu.

Saya merasa aneh dengan sakit nyeri yang saya rasakan ini.

Biasanya kalau sakit demam, saya tidak pernah merasa pegal-pegal dan nyeri seperti ini.

Tapi kenapa kali ini iya?

Akhirnya saya coba cari tahu hal ini di Google…

…dan saya menemukan kalau pegal-pegal dan nyeri ini adalah beberapa akibat dari infeksi virus Corona!

Hadehhhh! Makin bingung saya.

Cari referensi lain, saya baca kalau pegal-pegal ini jadi salah satu indikasi kalau sistem imun sedang melawan penyakit di dalam tubuh.

Jika memang pegal-pegal ini adalah indikasi kalau sistem imun saya sedang melawan penyakit (virus), maka kemungkinannya:

  1. Memang ada virus di dalam tubuh saya (dan bisa jadi itu virus Corona)
  2. Tubuh saya sedang melawan virus (mungkin Corona)

Eh ternyata kok kemungkinannya buruk semua.

Ya sudah, saya tetap istirahat full hari ini. Dengan mayoritas waktu saya habiskan dengan duduk dan mainan tab.

Malamnya, alhamdulillah rasa nyeri sudah hilang dan saya bisa tidur dengan nyenyak.

Hari Minggu

Alhamdulillah hari Minggu saya sudah sehat.

Sudah tidak demam dan tidak ada rasa nyeri lagi.

Akirnya hari ini saya gunakan sebagai masa pemulihan. Istirahat dan hanya melakukan kegiatan ringan, sambil sesekali nonton film di laptop.

Sekarang

Hari ini Hari Rabu, dan alhamdulillah saya sehat sampai hari ini. Semoga benar kemarin itu bukan virus Corona, tapi murni sakit karena kecapekan saja, dan saya bisa sehat seterusnya.

Kemarin itu sebenarnya saya juga sangat khawatir dengan ibuk dan mas saya.

Selain karena mereka kontak dengan memegang kening saya, Hari Jumat malam ibuk saya mengeluh kalau dia merasa pusing. Hari Sabtu pagi dia juga bilang merasa malas untuk beraktivitas.

Kan saya makin khawatir kalau sakit yang saya alami benar Corona dan telah menyebar ke ibu saya.

Tapi alhamdulillah tidak.

Ibu saya hanya pusing biasa. Hari Sabtu dia sudah sehat dan normal lagi.

Sampai saat ini pun kondisi orang-orang di rumah (termasuk saya) sehat semua.

Alhamdulillah.

Author: Fajrul

Amateur physicist and science writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *