Pertama kali naik pesawat Garuda dan ke-katrok-an lainnya

Ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat Garuda.

Dari dulu, saya naiknya pesawat-pesawat murah macam Wings Air, Lion Air, Batik Air, dan Air Asia. Mitos kedigdayaan dan kenyamanan pesawat Garuda dari dulu sudah saya dengar, tapi apa daya budget-nya tidak ada, saya pun belum pernah menaikinya.

Kebetulan, pada 1-4 November ini saya mengikuti kegiatan UNESCO Regional Workshop di Indonesia Convention Exhibition (ICE) di BSD Serpong, dan alhamdulillahnya, perjalanan saya diakomodir oleh panitia.

Oleh panitia, saya diberi pilihan armada penerbangan:

  • Garuda
  • Citilink
  • Batik

Yaa, namanya juga disuruh milih, jelas saya milih Garuda 😀

Setelah saya menaikinya, saya pun menyadari ada begitu banyak perbedaan dari penerbangan yang biasa saya lakukan. 

Saya keliatan katroknya haha

 

Ada TV-nya

Selama ini kalau dalam perjalanan penerbangan, biasanya saya hanya melihat kesunyian: kalau kebetulan di pinggir bisa nonton pemandangan, kalau engga, yang ditonton hanya kehampaan saja.

Nah, perjalanan kali ini berbeda karena di depan saya ada TV-nya!

 

Pramugari dan pramugara pun tidak perlu memberikan peragaan prosedur keselamatan, karena semuanya sudah ditunjukkan melalui layar di depan saya.

Setelah lepas landas, ternyata pilihan yang ada di TV semakin banyak. Bisa nonton film juga lho.

 

Ini tidak saya ketahui dari awal. Saya tahu dari melihat orang-orang di sekitar yang terlihat menikmati tayangan di TV depan mereka. Akhirnya saya mencoba mencet-mencet sampai akhirnya tau kalau bisa nonton film.

 

Ada makanannya

Ternyata ini bukan mitos.

Saya sudah pernah mendengar desas-desus ini sedari lama, bahwa dalam setiap penerbangan Garuda, penumpang akan diberi makan.

Ternyata benar, ini buktinya:

 

Isinya pun enak, roti enak makan pokoknya lah.

 

 

Minuman keliling

Dulu saya pernah dapet cerita dari teman saya.

Pernah suatu ketika dia naik pesawat terbang elit, dan melihat pramugari bergerak menjajakan makanan. Biasanya, kalau di pesawat-pesawat biasa, jajanan ini dijual (dengan harga mahal tentunya). Jadi ketika melihat ada pramugari membawa jajanan, ia juga berpikiran demikian.

+ Minumnya apa mas?
– Oh engga mbak.

Weladalah.

Setelah memperhatikan sekitar, ia baru sadar kalau ternyata minum ini gratis haha.

Untung saya sudah pernah mendengar cerita ini, jadi saya sudah mengantisipasinya ketika minuman keliling ini datang.

 

Alhamdulillah dapet minum susu.

Kalau saja saya belum tau, hampir bisa dipastikan kalau saya pun bakal menolak tawaran minum ini (mahal boss) wkwk

 

Headset

 

Saya membuka tumpukan benda yang ada di belakang kursi depan saya. Di pesawat-pesawat biasa, normalnya di sini ada majalah dan petunjuk keselamatan.

Akan tetapi, ada yang berbeda kali ini.

Saya melihat ada headset, dan saya pun membatin…

Oh, headset penumpang sebelumnya ketinggalan!

Lalu saya mengembalikannya kembali ke tumpukan di belakang kursi depan saya.

Sampai akhirnya saya melihat orang di samping saya mengambil sesuatu di tumpukan benda di depannya, yang tidak lain ternyata adalah headset!

Ia membukanya, dan kemudian menggunakannya untuk mendengarkan suara dari film yang ia tonton.

Dasar memang katrok, ternyata headset itu memang disediakan untuk penumpang biar bisa mendengarkan suara dari TV di hadapannya.

 

Tombol-tombol di kursi

 

Selain itu, saya juga melihat ada ada sederetan tombol aneh yang terdapat di pegangan kursi yang saya tempati.

Karena saya penasaran, saya coba pencet-pencet semuanya, dan ternyata tidak terjadi apa-apa.

Kemudian saya memperhatikan (lagi) penumpang di samping saya, penumpang yang sama yang mengambil dan mengenakan headset.

Saya melihatnya mencolokkan ujung headset ke bagian dekat pegangan kursi. Dan akhirnya saya yang katrok ini pun baru menyadari kalau tombol aneh ini berfungsi untuk mengatur suara dari headset yang saya pasang.


Demikian pengalaman perjalanan saya bersama Garuda.

Alhamdulillah, sebuah nikmat yang luar biasa, yang sekaligus menunjukkan betapa katroknya saya.

Author: Fajrul

Amateur physicist and science writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *