Perjalanan pesawat paling lama dan kehausan yang hakiki

Masih tentang keberangkatan ke Swiss.

Ini adalah cerita perjalanan yang cukup menarik. Walaupun saya memang sudah pernah pergi ke luar negeri, juga pernah bepergian jauh naik pesawat, perjalanan kali ini tetap spesial.

Kali ini saya akan mengunjungi sebuah tempat di benua Eropa, yang terkenal karena hampir seluruh badan PBB bertempat di kota ini, dan juga terkenal dengan sebutan ‘kota termahal di dunia’.

Lebih dari itu, yang menjadi perhatian saya adalah terkait lama waktu penerbangan yang saya lalui.

Timeline

Rute keberangkatan saya adalah Semarang – Jakarta – Doha – Jenewa,dengan total waktu perjalanan: 24 jam!

  • 18.00 WIB: Berangkat dari Semarang ke Jakarta
  • 20.00 WIB: Sampai di Jakarta, kemudian ke kos mbak untuk mengambil barang
  • 00.20 WIB: Berangkat dari Jakarta ke Doha (Qatar)
  • 09.00 WIB: Sampai di Qatar
  • 12.00 WIB: Berangkat dari Qatar ke Jenewa
  • 18.00 WIB: Sampai di Jenewa

Beruntungnya, perjalanan 24 jam ini terbilang nyaman. Sehingga saya tak harus kebosanan selama dalam perjalanan.

Terutama penerbangan dari Jakarta sampai ke Jenewa, dengan menaiki Qatar Airways.

Naik Qatar Airways

Bagaimana rasanya naik pesawat Qatar?

Wenak pastinya.

Ibaratnya seperti naik pesawat Garuda, yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, tapi ini versi lebih baiknya lagi.

Dalam perjalanan Jakarta ke Doha, saya disuguhi dua kali makan.

Ditambah dengan pramugari yang selalu mondar-mandir menawarkan berbagai minuman selama perjalanan.

Ini adalah penampakan saat di dalam pesawat malam hari.

Fotonya ngeblur

Adapun di depan kursi, seperti pesawat-pesawat premium lainnya, terdapat layar yang dapat memberikan hiburan. Dapat digunakan untuk menonton film, mendengarkan musik, main games, dan lain sebagainya.

Yang paling menarik menurut saya adalah…. dari layar ini, kita bisa melihat lintasan perjalanan pesawat selama di udara. Juga mengetahui posisi pesawat saat itu juga.

Hal ini sangat membantu, sehingga kita tak perlu kebingungan di dalam hati, sekarang udah sampai mana ya?

Dehidrasi

Satu hal yang menyiksa saya selama perjalanan ini ada satu: dehidrasi.

Ini terjadi pada perjalanan pesawat dari Jakarta menuju Doha.

Seperti kebanyakan kasus ketika melewati x-ray bandara, air minum yang sudah saya bawa harus dibuang habis.

Dan ini sangat menyiksa karena itu artinya saya harus melakukan perjalanan lama tanpa membawa minum. Padahal, saya ini orangnya butuh minum banget.

Dan benar saja. Tak berselang lama setelah pesawat terbang pada pukul 00.20 WIB, mungkin sekitar 2 atau 3 jam sesudahnya, saya kehausan.

Mati aku. Duh!

Ini kondisinya setelah para penumpang diberi makan dan minum yang fotonya sudah saya pos di atas.

Nah tapi apadaya minum yang disediakan tidak seberapa, saya pun masih kehausan. Haus banget.

Saya mencoba menenangkan diri, menelan ludah, dan berusaha tidur.

Setelah berusaha lama, akhirnya saya tidur.

Untuk kemudian bangun dan merasa semakin haus lagi. Astaghfirullah.

Ini aku haus banget ya allah

Menelan ludah terus menerus, dan tidak ada sedikit pun sensasi kesegaran yang saya dapatkan.

Saya udah mikir macem-macem. Ini nanti kalau aku pingsan karena kehausan gimana ya?

Daripada mikir tanpa solusi, akhirnya saya mengambil sedikit tindakan.

Ngemut jempol.

dan ngemut jaket.

Beruntungnya, kedua hal itu cukup membantu. Ada sedikit sensasi kesegaran yang saya dapatkan dibanding hanya sekedar menelan ludah.

Walaupun, ya pada akhirnya tidak banyak menolong juga.

Akhirnya saya memberanikan diri keluar kursi. Menuju toilet, dan berharap bisa bertemu pramugari untuk mendapatkan air minum.

Saya sudah menyiapkan kalimat, “Can I get water? I feel so dehydrated.”

Tapi sayangnya saya tidak ketemu dengan pramugari. Duh astaghfirullah.

Beruntungnya, tak berselang lama setelah saya duduk kembali di kursi, pramugari mulai berjalan membagikan makanan dan minuman lagi.

Jadi ketika sudah sampai di tempatku, dan si pramugari memberikan makan dan minum, aku pun menyaut.

Can I get more water?

“Yes, of course, Sir.” Pramugari menanggapi dan memberi saya satu gelas air minum lagi.

Alhamdulillah…. saya pun minum dua gelas air itu. Alhamdulillah segar.

Walaupun sebenarnya saya masih hauss!

Jadi dalam sisa waktu perjalanan itu, setiap kali pramugari lewat, saya selalu memanggil dan meminta minum.

Hah, alhamdulillah. Setidaknya, hidup saya masih bisa terselamatkan dari kehausan ini.

Ternyata haus adalah sebuah kejadian yang sangat menyiksa–hal yang selama ini tidak saya sadari karena saya selalu membawa air minum cukup di manapun berada.

Menikmati perjalanan

Jadi setelah saya usai dengan masalah kehausan di atas, saya sudah bisa menikmati perjalanan.

Entah dengan tidur, membaca buku, menonton film (tidak bisa menikmati), dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, saya sampai juga di kota Jenewa, Swiss, dan disambut dengan suhu dingin 7 derajat Celsius.

By Fajrul

Amateur physicist and science writer

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *