Penurunan performa

Sudah hampir satu tahun, saya merasa performa saya menurun keseluruhannya. Baik dari segi pengetahuan, kebijaksanaan, sosial, dan semuanya.

Dari segi pengetahuan, tak banyak hal baru yang saya pahami. Dan parahnya, pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya saya pahami dan resapi dengan baik perlahan justru mulai memudar.

Kebijaksanaan saya menghilang. Dulu saya lebih bijak dalam bersikap. Berfikir dengan tenang dan mencari jalan terbaik dengan mafsadah terkecil. Akan tetapi, makin ke sini saya justru jadi mudah emosi. Bukan emosi dalam artian saya marah-marah tentunya, tapi tersulut emosi dalam pikiran yang membuat saya tak bisa bertindak dengan bijak kembali.

Ya memang marah-marah sih, mengumpat pada diri sendiri dan marah dalam pikiran.

Dari segi sosial, rasa-rasanya saya makin sulit berkomunikasi dengan orang. Rasanya canggung dan agak gimana gitu. Padahal dulu, terutama pas masa-masa kuliah semester 4 dan 5, saya cukup proaktif dalam bersosial, seperti menyapa dulu, mengajak kenalan, dan mencari-cari topik obrolan.

Lha sekarang, komunikasi sama teman saja mulai jarang. Kalaupun berkomunikasi, saya lebih banyak pasif: kalau ditanya ya saya jawab, kalau tidak ditanya yasudah diem-dieman.

Itu hanya beberapa contoh yang saya alami. Dan secara keseluruhan, saya memang mengalami penurunan performa di segala aspek.

Grafik penurunan performa hidup saya

 

Apa penyebabnya?

Saya belum tahu pasti apa penyebabnya, tapi setelah coba merenung… setidaknya saya menyadari ada dua hal utama:

Distraksi

Makin banyak distraksi yang mengganggu hidup saya. Dan distraksi itu sayangnya selalu melekat kemana pun saya pergi.

Smartphone.

Smartphone telah mendistraksi fokus saya. Ketika hari masih pagi, tubuh masih segar, dan pikiran sedang fresh, saya sudah berencana untuk melakukan hal-hal produktif. Akan tetapi, entah kenapa saya meraih smartphone, niatnya sih cuma ingin liat chat-chat yang masuk, tapi kemudian merambah membuka instagram, facebook, lalu berputar pada siklus tak hingga…

…sampai akhirnya kesegaran tubuh dan pikiran saya hilang begitu saja. Tergantikan dengan pikiran yang tidak fokus dan badan yang telah lelah.

Kalau sudah begini, mau ngapa-ngapain juga tidak enak. Mau bikin tulisan di Saintif, ngga fokus. Mau baca buku, ngga konsen.

Kalau sudah begini, waktu saya jadi makin tidak berguna karena akhirnya saya malah hanya menghabiskannya dengan berputar-putar menonton video di Youtube. Sampai saya jadi makin capek, makin tidak fokus, linglung, dan akhirnya saya tidur.

Sungguh pola hidup yang rusak… yang disebabkan oleh kurangnya manajemen saya terhadap distraksi smartphone.

Kurang aktualisasi diri

Dulu, saya mengaktualisasi diri melalui karya atau melalui kompetisi. Adapun saat ini, bikin karya aja saya jarang. Apalagi kompetisi, ya ogah kuadrat.

Di masa-masa ini, karya yang saya buat paling cuma tulisan-tulisan dan gambar infografis untuk Saintif. Selain itu, tidak ada. Konten / karya yang saya buat di Saintif itu pun tidak selalu merupakan wujud aktulisasi diri saya, melainkan hanya sebagai wujud jawaban atas kebutuhan pasar.

Jadilah hidup saya jadi datar-datar saja.

Hidup yang datar ini berbahaya. Karena semuanya jadi begitu membosankan dan apa-apa yang harusnya bisa menggugah hidup saya terkena imbasnya… jadi terasa biasa saja juga. Haduh.

Pemikiran-pemikiran yang saya punya hanya tertahan di kepala. Buku yang saya baca hanya berhenti di mulut saja. Tindakan yang saya lakukan? Ya cuma begitu-begitu saja.

Saya kurang aktualisasi.

Karena itu pemikiran-pemikiran tajam saya mulai menumpul. Ilmu yang saya pelajari dari membaca buku menguap ketika buku itu telah ditutup. Seringkali saya jadi linglung karena kondisi ini.

 

Bagaimana memperbaikinya?

Dulu saya tidak pernah berada di kondisi serendah ini. Bahkan walaupun saya tidak punya capaian apa-apa, rasanya dulu hidup saya masih bahagia. Kenapa? Karena saya masih melakukan aktualisasi diri, yang di masa ini tidak saya lakukan.

Maka, bagaimana caranya agar saya bisa memperbaiki kondisi ini?

Sepertinya, jawabannya adalah aktualisasi diri.

Dan sekarang saya sedang berusaha melakukannya. Ya, melalui menulis. Menulis memanglah sebuah metode terapi yang ampuh untuk orang-orang yang sedang berada dalam fase buruk seperti saya saat ini.

Menulis membantu menghubungkan potongan-potongan informasi yang ada di otak. Menyambungkannya menjadi sebuah informasi yang teratur dan berguna. Pemikiran yang sebelumnya tumpul, diasah oleh tulisan untuk kembali tajam.

Ilmu-ilmu, baik dari buku atau kehidupan secara langsung, menjadi lebih membekas dengan menulis.

Melalui menulis ini pula, saya berlatih mengembalikan fokus saya. Menghindari distraksi dari smartphone.

Dan ya, benar saja. Menulis ungkapan hati dan pemikiran seperti ini dapat membuat saya merasa lebih lega, lebih tenang, dan lebih fokus. Bukti nyatanya, saya belum menyentuh smartphone saya ketika menulis tulisan ini. Padahal biasanya, tiap 10 menit saya pasti sudah tidak tahan membuka hp, scroll-scroll tidak jelas dan tau-tau waktunya sudah habis gitu aja.

Demikian, semoga terapi menulis ini memberi dampak baik ya. Semoga performa saya bisa kembali naik, bahkan lebih tinggi dari sedia kala.

Author: Fajrul

Amateur physicist and science writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *