Lika-liku keberangkatan ke Swiss

Pada akhirnya, saya berkesempatan untuk berangkat ke Swiss atas nama Saintif untuk menghadiri WSIS Forum 2019.

Akan tetapi, kepastian keberangkatan saya ini penuh dengan lika-liku.

Dan liku paling besarnya adalah bahwa saya harus berangkat ke Swiss mewakili Saintif sendirian–tidak bersama dua rekan saya.


Senin, 25 Maret 2019, saya mendapatkan undangan oleh Kominfo untuk menghadiri rapat persiapan WSIS Forum di kantor Kominfo, Jakarta.

Berhubung pada hari itu Ridho sedang tidak bisa bergabung, saya berangkat ke Jakarta bersama Suci.

Sesampainya di kantor Kominfo, kami segera menempati tempat duduk dan menyimak berbagai hal yang dibicarakan.

Dari apa-apa yang dibicarakan, terlihat jelas kalau orang-orang di sini sudah berpengalaman dalam kegiatan WSIS Forum. Dan berhubung kami belum tahu apa-apa, jadilah kami diam sambil memperhatikan sampai menjelang akhir rapat.

Sampai pada pertanyaan yang disampaikan bapak pemimpin rapat kepada para perwakilan champion yang menghadiri rapat.

Bagaimana persiapan para champion?

Perwakilan dari RTIK (Relawan TIK) Indonesia, yang juga mendapatkan penghargaan champion pada WSIS Prize, segera menjawab. Menjelaskan banyak hal.

Kurang lebih, isinya mengatakan bahwa mereka telah siap secara keseluruhan. Berkas visa sudah disiapkan dan tinggal maju mengurus saja.

Setelah itu, perwakilan dari Telkomsel menyambut.

Telkomsel, melalui program CSR (corporate social responsibility)-nya yang bernama Baktiku Negeriku, yang mendapatkan dua buah penghargaan champion pun menjelaskan banyak hal.

Dari penjelasannya, ia mengatakan kalau tim dari Telkomsel sudah siap. Seluruh tim sudah ditentukan, pesawat, penginapan, dan persiapan untuk pameran. Bahkan mereka juga berinsiatif untuk membuat satu booth pameran tersendiri untuk memamerkan programnya tersebut.

Setelah penjelasan dari RTIK dan Telkomsel, pemimpin rapat manggut-manggut. Mengiyakan dan mengapresiasi seluruh persiapan yang sudah dilakukan.

Setelah itu, ia mulai beralih topik bahasan dan saya yang bersiap ngacung dan menjelaskan pun menepuk dahi.

“Pak, ini saya belum ngomong, pak” Ungkap saya dalam hati.

Kabar buruknya, si bapak itu masih belum berhenti-berhenti membahas topik lain. Sementara saya masih berusaha menyela untuk ngacung dan memberikan penjelasan.

Dengan tangan yang semakin dingin, saya masih menunggu waktu hingga si bapak ini berhenti berbicara.

Dan syukurlah.

“Ada lagi yang hendak ditanyakan? atau mungkin ada kendala? Tadi udah semua ya persiapannya?”

Tak mengambil banyak waktu, aku pun langsung segera memanggil sambil mengacungkan tangan.

Ehm, pak. Kami belum pak.”

Oh iya. Dari Saintif ya, silahkan.”

Dengan kondisi tangan yang dingin dan dada yang berdebar karena grogi, saya pun jujur mengatakan kepada peserta rapat.

Perkenalkan, saya Fajrul dari Saintif.

Berbeda dengan rekan-rekan lain dari RTIK dan Telkomsel yang sudah siap semuanya… ehm, mohon maaf, kami dari Saintif belum mempersiapkan apa-apa.

Di satu sisi, di sini kami baru, jadi belum tahu apa-apa. Dan di sisi lain kami pun memiliki kendala

…saya menarik napas sebentar, sambil memperhatikan orang-orang di sekitar yang mulai memperhatikan.

Jadi di sini sebenarnya kami memiliki kendala, pak. Kami belum memiliki dana untuk proses keberangkatan ke Swiss.

Sebenarnya, latar belakang kami ini masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Diponegoro Semarang, jadi tentu kami belum memiliki cukup uang untuk akomodasi dan keberangkatan ke Swiss.

Dan sebenarnya kami hadir di sini salah satunya hendak bertanya, apakah mungkin dari Kominfo bisa memberikan bantuan dana tersebut.

Seperti itu, pak. Terima kasih.

Suasana lengang sebentar. Seakan terenyuh dengan cerita ngenes saya kalau kami cuma mahasiswa dan belum punya banyak uang.

“Mmm… begitu ya.” Bapak pemimpin rapat menanggapi.

Bapak-bapak di sebelah saya menatap saya lamat-lamat. Mungkin kasihan.

“Gimana ini mbak, ada champion yang memiliki kendala untuk keberangkatan ke Swiss” Bapak pemimpin rapat bertanya ke ibu di depannya.

“Ya, gimana ya pak. Kalau selama ini sih dari keberjalanan WSIS Forum, dari Kominfo tidak pernah memfasilitasi keberangkatannya. Tiap champion menggunakan dananya sendiri untuk berangkat.” Ibu di depan menjelaskan.

Kami hanya mengangguk—mengangguk dengan penuh kesedihan.

Kalau mungkin bisa diusahakan, bisa dicoba, mbak.”

Ehhm, ini pak… sebenarnya kami sudah coba approach ke kampus. Tapi dari pihak kampus belum berkenan untuk membiayai kami. Kalau pun mau membiayai, itu pun sistemnya re-imburse. Lha sebagai mahasiswa kan ya kita ngga punya uang pak” Saya menjelaskan, dengan sedikit tawa di akhir.

Peserta rapat ikut tertawa.

Setelah melalui berbagai perundingan, akhirnya diberi tahu kalau Saintif akan coba diajukan ke Kominfo untuk pendanaan keberangkatan ke Jenewa.

Tapi didanai atau tidaknya, dari pihak panitia rapat sama sekali tidak bisa memberi janji. Dan kalau pun jadi didanai, hanya satu orang yang bisa dapat.

Lalu bapak-ibu peserta rapat juga memberikan bantuan lagi berupa surat penugasan dari Kominfo kepada UNDIP–ini ide dari Suci. Ide brilian.

Dengan surat penugasan tersebut, harapannya UNDIP mau untuk memberikan bantuan dana untuk kami berangkat ke Jenewa. Bahkan jika diperlukan, perwakilan Kominfo bersedia untuk bertemu rektor untuk menjelaskan betapa penting dan bergengsinya event WSIS yang diadakan oleh PBB ini.


Seusai rapat hari Senin itu, yang saya lakukan adalah menunggu.

Menunggu konfirmasi pendanaan dari Kominfo untuk Saintif, dan menunggu surat penugasan dari Kominfo kepada UNDIP.

Sambil menunggu tersebut, dengan penuh tergesa-gesa saya memastikan kepada tim Saintif untuk segera membuat visa. Jaga-jaga saja dan sebagai investasi.

Jadi jika misalkan kita jadi mendapatkan pendanaan, kita siap untuk langsung berangkat.

Ini beda ceritanya kalau misalkan kita menunggu untuk mendapatkan kepastian baru mengurus visa. Sudah pasti kami bakal batal berangkat, karena keberangkatan ke Swiss itu tanggal 6 April 2019–hanya berselang dua minggu dari hari pertemuan Kominfo.

Untungnya, karena kami hadir di rapat koordinasi WSIS, kami bisa mendapatkan bantuan berkas berupa nota diplomatik rekomendasi visa dari Kemlu (Kementerian Luar Negeri).

Dengan nota diplomatik ini, proses pembuatan visa bisa dipercepat yang tadinya antara 7 – 14 hari, bisa menjadi 3 hari saja. Ini sangat membantu karena kondisiku tidak memungkinkan untuk mengurus visa secara langsung.

Linimasanya seperti ini:

  • 25 Maret 2019 (Senin) : Rapat koordinasi Kominfo – Jakarta
  • 27 Maret 2019 (Rabu) : Shooting video IdeaNation di Narasi – Jakarta
  • 28 Maret 2019 (Kamis) : Yasinan hari terakhir untuk bapak saya – Pati
  • 29 Maret 2019 (Jumat) : Peringatan 100 hari meninggalnya bapak saya – Pati

Dengan linimasa seperti itu, maka tidak mungkin saya bisa mengurus visa di minggu itu.

Satu-satunya kemungkinan adalah dengan mengurusnya di minggu depan (1 – 5 April 2019), yang merupakan minggu kritis karena seharusnya hari Sabtunya (6 April 2019) saya berangkat ke Swiss (kalau jadi).

Dan menjadi semakin kritis lagi karena hari Rabu (3 April 2019) adalah hari libur.


Hari Kamis (28 Maret 2019) sore hari, alhamdulillah surat penugasan dari Kominfo ke UNDIP sudah dibuatkan.

Hari Jumat pagi nya, Suci di Semarang segera memberikan surat tersebut ke sekretaris rektor. Semoga dengan surat ini bapak rektor berkenan memberi pendanaan.


Senin (1 April 2019), kami berangkat ke Jakarta untuk mengurus visa. Semua berkas sudah sesuai dan tidak ada kendala berarti. Malamnya, kami langsung pulang kembali ke Semarang.


Selasa (2 April 2019), Suci memfollow-up surat yang telah diberikan ke sekretaris rektor.

Dan tebak apa hasilnya?

Ehm.

Iya mbak, ini suratnya yang dari Kominfo kemarin untuk delegasi WSIS sudah diproses. Nanti kami buatkan surat tugas.” Sekretaris rektor menjelaskan.

Eh. Saya dan suci seakan mematung. Ha? Cuma dikasih surat tugas?

Saya segera menyanggah, “Lha untuk pendanaannya bagaimana mbak? Maksudnya lewat surat ini itu kami membutuhkan pendanaan untuk keberangkatan ke Swiss tersebut”

“Oh sama pendanannya juga ya mas? Di sini ngga tertulis soalnya. Yaudah nanti saya proses lagi ke Pak Rektor ya.” Sekretaris rektor menjelaskan.

Padahal kemarin aku pas ngasih surat udah bilang kalau lewat surat itu kita butuh pendanaan” Suci menjelaskan pada saya setelah keluar ruangan.

Wadidaw.

Waktu semakin dekat dan malah makin tidak jelas.


Hari Selasa itu pula, saya ditelfon pihak Kedutaan Besar Swiss, yang mengatakan kalau ada yang kurang dengan berkas visa kami bertiga. Uang di rekening kami kurang banyak.

Solusinya ada dua: Tambah uang yang ada di rekening, atau dengan memberikan surat keterangan sponsor.

Nah, bingung-bingung deh.

Saya langsung kepikiran kalau kita butuh tambahan uang di rekening sebanyak 90 juta untuk tiga orang.

Dan di sisi lain, saya langsung segera menghubungi pihak Siberkreasi (dari Kominfo) yang mengusahakan pendanaan saya. Saya bilang kalau saya butuh surat sponsor. Alhamdulillah direspon cepat dan segera diarahkan ke orang yang buat surat.

Begitu juga dengan kebutuhan uang yang banyak tersebut, Suci segera menghubungi kembali ke sekretaris rektor untuk meminta surat sponsor dari UNDIP.


Rabu (3 April 2019). Ini hari libur, dan tidak ada yang bisa kita usahakan terkait pengurusan visa dan pendanaan ke Swiss.

Jadi, di hari ini kami memutuskan untuk mengisi waktu yang lebih bermanfaat. Membuat proposal PMW (Program Mahasiswa Wirausaha).

Mikirnya gini.

Kalau misalkan toh nanti kita gagal berangkat ke Swiss, setidaknya nanti masih ada kemungkinan proposal PMW Saintif lolos dan didanai.

Seharian kami mengerjakannya.


Pada hari Kamis (4 April 2019), Kominfo melalui Siberkreasi memiliki event talkshow dan workshop di Semarang. Namanya School of Influencer, dan saya diminta menjadi salah satu pemateri talkshow dan workshop tersebut, karena Saintif dianggap sesuai dengan semangat yang ada pada event tersebut.

Dengan senang hati tentu saya iyakan (tawaran dan penerimaannya sudah beberapa hari yang lalu). Di satu sisi, saya sebenarnya juga berharap kalau dengan saya membantu menjadi pemateri, mungkin nanti saya jadi bisa didanai. Di sisi lain, saya pun sebenarnya juga sangat bersyukur dapat terlibat dalam acara ini, bersanding dengan berbagai pembicara hebat lainnya.

Siang harinya, di sela-sela mengisi acara, surat sponsor yang saya minta kemarin akhirnya sudah jadi. Walaupun sayangnya, nama yang tertera di sponsor itu hanya saya saja—ya, karena mereka memang hanya bisa memberi pendanaan pada satu orang.

Segera saya mengirimkan surat tersebut ke pihak Kedubes.

Sementara itu, tambahan uang untuk tabungan Suci dan Ridho masih belum dapat solusi.

Saya sudah coba bilang ke mbak saya, kalau saya butuh uang 90 juta. Tapi, itu uang yang banyak. Jadi agak susah juga pinjamnya.

Hari Kamis pun berlalu.

Sampai pada malam harinya, saya baru kepikiran.

Lah, ngapain aku kemarin nyari 90 juta? Kan yang dibutuhin tiap satu orang 30 juta. Sementara aku punya uang 15 juta-an, seharusnya aku cuma harus cari pinjaman 15 juta.

Bukan 90 juta!

Setelah menyadari itu, saya segera mencari pinjaman ke mbak saya sebesar 15 juta rupiah.


Hari Jumat (5 April 2019).

Pagi-pagi sekali saya langsung ke bank BTN bersama suci untuk transfer uang 15 juta ke rekeningnya, untuk kemudian dicerak rekening korannya.

Setelah selesai cetak rekening koran, uangnya kemudian ditransfer ke Ridho, untuk dicerak rekening korannya juga.

Tapi sungguh sial hari itu.

Proses transfer uang nya berjalan dengan sangat lambat. Saya transfer ke Suci jam 09.00 pagi, dan baru masuk pukul 11.30. Begitu pula transfer dari Suci ke Ridho, yang memakan waktu.

Pada akhirnya, rekening korannya berhasil tercetak kira-kira pukul 14.00 WIB, dan segera dikirim via email ke Kedubes.

Sorenya, Suci dan aku kembali menuju sekretaris rektor, berharap ada jawaban yang melegakan dari rektor.

Tapi sayang.

Surat sponsor masih belum jadi, dan kemungkinan baru selesai hari Senin.

Sementara surat pendelegasian masih menunggu untuk diproses.

Ya sudah.

Sudah tidak ada jalan lagi. Kita gagal berangkat


Jumat sore, mbak saya berangkat ke VFS (bagian pengurusan visa dari Kedubes Swiss).

Alhamdulillahnya, visa saya keluar.

Tapi astaghfirullahnya, visa Suci dan Ridho belum keluar. Karene memang berkas tambahannya baru dikirim siang tadi.

Aku segera menghubungi Siberkeasi perihal visaku yang sudah keluar tersebut. Dan tidak berselang lama chat ku dibalas.

Singkatnya, berhubung visaku sudah keluar, mereka jadi membiayai keberangkatanku ke Swiss. Berangkat langsung hari Sabtu malam. (Dan ini hari Jumat sore).

Di satu sisi saya senang karena bisa berangkat. Tapi di sisi lain juga sedih karena tidak bisa berangkat dengan dua teman saya.

Terkhusus dengan Suci.

Dia yang paling rajin mengurus semua berkas. Bolak-balik mengurus tanda tangan di fakultas dan rektorat. Bolak-balik memfollow-up surat. Beberapa kali agak kena semprot, dan banyak perjuangan lainnya.

Tapi justru dia belum bisa berangkat.

Saya coba sedikit menghibur:

Semoga aja nanti hari Senin depan udah ada jawaban. Barengan sama visa mu yang pas keluar. Nah, nanti kamu bisa berangkat nyusul.

Dalam kondisi yang cukup berduka tersebut, Suci pun masih sempat-sempatnya membantuku membuat list persiapkan dan membeli beberapa barang yang kubutuhkan untuk berangkat.


Akhirnya saya berangkat ke Jakarta pada hari Sabtu (6 April 2019) sore, lalu segera menuju ke bandara, dan bertolak menuju Swiss pada Minggu (7 April 2019) dini hari.

Dan di sisi lain…

UNDIP masih belum memberikan jawaban apapun terkait pendanaan, dan pengajuan visa ke Kedubes milik Suci dan Ridho pun dipending karena telah melewati rencana keberangkatan seharusnya.

Published
Categorized as Curhat

By Fajrul

Amateur physicist and science writer

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *