Dua Minggu Pengayaan Bahasa

Kelas C – PB UGM 2020

Setelah dua minggu menjalani program Pengayaan Bahasa LPDP, ada dua hal penting yang saya ingat dan sangat berkesan.

Pertama: Pesan dari Miss Mala

Miss Mala adalah salah satu guru bahasa Inggris di PB yang sangat saya kagumi.

Penyampiannya menarik, pembawaannya jelas, membuka diskusi, dan membuat kelas jadi bersemangat.

Selain itu, saya ingat betul satu pesannya di awal pembelajaran:

Language is not a skill, it’s a habit

Bahwa keahlian bahasa itu pada dasarnya bukan sebuah skill, tapi sebuah kebiasaan.

Kalimat ini membuat saya sadar… daripada sekedar berusaha “belajar” menguasai bahasa, akan lebih baik jika saya juga menjadikan bahasa yang saya pelajari menjadi kebiasaan.

Jika saya menjadikannya kebiasaan (kebiasaan mendengarkan, berbicara, menulis, dan membaca dalam bahasa Inggris), kemampuan berbahasa itu akan terbentuk dengan sendirinya.

Kedua: Proses Belajar yang Seru Bersama Anne!

Salah satu sesi pembelajaran di PB saya diajar oleh guru dari Amerika bernama Anne.

Dan ketika diajar oleh Anne, saya merasakan aura dan melakukan kegiatan belajar yang benar-benar berbeda.

Walaupun kebanyakan guru lain juga memberikan materi secara interaktif kepada para siswa, apa yang dilakukan Anne berbeda.

Ketika guru lain “mencukupkan diri” dengan berada di depan kelas dan para siswa duduk di tempatnya masing-masing… Anne lebih memilih kelas interaktif dalam bentuk lingkaran.

Jadi setiap kali kelas Anne, kami memindah posisi kursi untuk membentuk lingkaran.

Ini membuat semu wajah terlihat dan suasana kelas pun jadi lebih ramai, karena Anne selalu memulai dengan permainan.

Ia juga guru yang sangat modal.

Ia memberikan buku tulis kepada masing-masing siswa. Meminjamkan stabilo, spidol, dan lain sebagainya saat diperlukan, dan banyak lagi lainnya.

Di akhir kelas, ia selalu membagikan selebaran kertas kecil untuk diisi dengan feedback dari proses pembelajaran yang telah ia lakukan.

Minggu pertama, di kertas kecil itu, saya menulis feedback untuk Anne:

Please give time for student to ask questions, because Indonesian student usually don’t interrupt the teacher in the middle of talk

Hal itu saya sampaikan karena walaupun materi yang Anne sampaikan sangat menarik, materinya juga padat sejak awal masuk sampai selesai kelas. Akibatnya, tidak ada waktu bertanya yang tersedia.

Dan ajaibnya, di minggu kedua ini ada hal yang berbeda.

Setiap kali Anne menyelesaikan suatu sesi penjelasan, permainan, atau apapun itu, ia selalu mengakhiri dengan kalimat baru ini:

Any questions?
Does anyone have question?

Saya pun merasa senang dengan hal itu.

Di kertas kecil untuk feedback minggu kedua ini, saya pun menuliskan hal ini:

Thank you for giving time to ask questions, Anne!

Tambahan

Ada hal penting lagi ternyata.

Anne, sebagai seorang native English speaker juga menjelaskan tentang tata cara memanggil nama orang di negara berbahasa Inggris.

Kalau di Indonesia kita biasa memanggil orang dengan awalan Mas, Mbak, Bapak, Ibu, dan sebagainya, ternyata di sana tidak.

Kita memanggil nama sesuai bagaimana orang itu memperkenalkan diri.

  • Kalau orangnya memperkenalkan diri dengan hanya menyebut nama, berarti kita memanggilnya langsung nama
  • Kalau orang itu memperkenalkan dengan suatu awalan—misal Dr. Anne, berarti kita harus memanggilnya Dr. Anne.

Anne sendiri mempersilahkan para siswa untuk memanggilnya secara langsung dengan nama “Anne”.

Teman-teman saya merasa canggung dan tidak sopan dengan memanggil guru hanya dengan namanya saja.

Tapi saya sih bodo amat wkwk, saya melupakan itu karena di sini konteksnya bukan tentang sopan santun.

So saat saya bertanya di kelas, saya pun berkata:

Hi, Anne. I have question about (……)

Sambil teman-teman sekelas yang kaget memperhatikan saya. “Eh anjir manggilnya Anne gitu aja“.

Saya tahu kalau diperhatikan… tapi saya biasa saja pura-pura tidak tahu.

Selain Anne, ada juga Bu Sari yang memperkenalkan diri seperti itu.

Bu Sari itu salah satu guru senior di UGM, dan beliau mempersilahkan siswa untuk memanggilnya dengan kata “Sari” saja.

Tentu saja teman-teman saya tidak ada yang berani mengatakan demikian.

Tapi saya mah asal coba saja.

Saya bertanya: “Hi, Sari. How about the information (….) ?” di tengah tatapan teman-teman yang seakan tidak percaya saya memanggilnya dengan nama saja.


Demikian dua hal menarik (+tambahan) yang saya pelajari selama PB di UGM ini.

Mungkin nanti akan tambah lagi karena program ini masih lama (3 bulan cuy).

Published
Categorized as Curhat Tagged

By Fajrul

Amateur physicist and science writer

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *