David and Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa

Saya mengenal Malcolm Gladwell dari postingan Kawruh di Instagram, yang mendeskripsikan Malcolm sebagai salah satu penulis hebat yang karya-karyanya selalu ditunggu oleh penikmat buku di seluruh dunia.

Gambar oleh @kawruh_

Awalnya saya acuh saja, karena deskripsi semacam ‘penulis hebat dengan buku-buku bestseller’ itu di mana-mana juga banyak. Dan apa yang saya alami ketika membaca buku-buku karangan penulis seperti itu tidak selalu lebih baik daripada buku-buku pilihan saya yang kadang penulisnya kurang terkenal.

Tak berselang lama, saya kemudian melihat sebuah video iklan di Instagram oleh MasterClass yang menampilkan sosok penulis… yang tak lain adalah Malcolm Gladwell.

Gaya video Masterclass yang dramatis itu membuat saya tertarik untuk mengulik sosok Malcolm Gladwell lebih jauh lagi.

Di mana-mana dijelaskan seorang Malcolm Gladwell adalah penulis senior di The New Yorker dan telah menghasilkan buku-buku best seller di tingkat dunia.

Buku-bukunya adalah buku nonfiksi bertopik pengembangan diri, dengan berlandaskan pada kajian-kajian ilmiah, yang diramu dalam bentuk cerita yang sangat menarik.

“Waa, ya cocok ini, saya suka buku-buku seperti ini.” Gumam saya.

Dengan kondisi pikiran saya yang sedang tidak baik, seperti yang saya jelaskan di tulisan sebelumnya, lalu kondisi saya yang sedang suwung karena tidak punya buku bacaan bagus, maka saya melanjutkan dengan mencari tau buku-buku Gladwell.

Pilihan saya tertuju pada buku David and Goliath, dengan dua pertimbangan utama:

Pertama, saya mengenal kisah itu. Kisah antara David (Nabi Daud) dengan Goliath (Raja Jalut).

Kedua, saya sedang berada di posisi itu. Saat ini saya sedang mengembangkan Saintif, dan Saintif adalah David yang mencoba mengalahkan raksasa-raksasa media besar di Indonesia.

Agar tak tertipu dengan judul buku dan review-review yang terlalu berlebih memuji buku tanpa esensi isinya… saya mulai mencari informasi lebih banyak terkait buku David and Goliath ini.

Dan saya tertuju pada video Malcolm Gladwell yang bercerita tentang David and Goliath saat berada di acara TED.

Melihat penjelasan yang begitu menarik dari Gladwell, tanpa ragu kemudian saya memutuskan untuk membeli buku David and Goliath.

Seperti biasa saya membeli lewat Tokopedia / Bukalapak, dan mencari buku yang bekas. Biar lebih murah dikit haha. Tapi tidak hanya itu. Kebetulan cover buku Malcolm Gladwell cetakan terbaru kurang bagus, jadi hal itu makin memantapkan saya untuk beli buku bekas yang edisi sebelumnya, biar covernya lebih bagus.

Ini dia bukunya:

Review

Buku ini dibuka dengan begitu apik dengan kisah antara David dan Goliath, sebagaimana judul bukunya.

Kita semua pasti pernah mendengar kisah itu, maka Gladwell dengan cerdik mengambil cerita itu untuk menarik perhatian pembaca. Mulanya tak ada yang aneh dengan cerita yang disampaikan Gladwell, semua sama seperti apa yang biasa saya dengar, David yang kecil berhasil mengalahkan Goliath yang besar dengan menggunakan ketapel.

Sampai akhirnya, satu per satu kesalahanpahaman dalam kisah itu diungkap oleh Gladwell.

Kebanyakan dari kita menganggap bahwa Goliath yang merupakan petarung pedang bertubuh besar punya keunggulan dibanding David yang hanya merupakan gembala bertubuh mungil… Tapi dari sini semua kesalahpahaman itu bermula.

Dengan menggunakan zirah yang lengkap, Goliath bergerak menuruni lembah dengan ditemani seorang prajurit untuk menuntunnya. Ia lalu dengan keras menantang lawannya di seberang lembah yang masih belum berani maju.

Tentu saja semua bergidik melihat Goliath, yang telah siap dengan baju tempur dan pedangnya. Tidak ada yang berani menghadapinya.

Sampai akhirnya David menawarkan diri pada Raja Saul untuk menghadapi Goliath. Sang raja ragu pada David. Akankah ia dapat mengalahkan Goliath yang begitu kuat? Raja menawarkan David untuk memakai zirah dan senjata perang, tapi David menolak, dan justru hanya membawa tongkat pelontar batu sebagai senjatanya.

Dengan tubuh rampingnya, David bergerak cepat menuruni lembah, bergerak menuju Goliath. Goliath pun berkata jumawa:

“Apakah aku ini anjing sehingga kamu mendatangiku dengan tongkat-tongkat?”

David mengambil bebatuan di bawahnya, lalu memasangnya di pelontar. Sambil ia terus bergerak maju, batu itu ia lontarkan tepat mengenai kepala Goliath.

Belum sempat Goliath menyadari lemparan batu itu, dan ia telah tersungkur jatuh karena batu itu telah telak mengenai kepalanya.

Setidaknya ada beberapa kesalahpahaman dari kisah ini.

Perilaku Goliath aneh. Jika memang Goliath adalah petarung yang begitu kuat, seharusnya ia tak perlu bantuan prajurit untuk menurungi lembah.

Tubuh yang terlalu besar. Besar kemungkinan, Goliath mengalami gejala bernama gigantisme. Sebuah kondisi di mana produksi hormon pertumbuhan terjadi secara berlebihan. Ini yang menjelaskan kenapa Goliath dapat memiliki tubuh yang sangat besar.

Goliath rabun. Sayangnya, gigantisme menyimpan banyak bahaya. Salah satunya adalah penyakit akromegali, tumor jinak di kelenjar pituitari, yang menghimpit saraf mata dan membuat penglihatan jadi kabur. Ini dibuktikan dengan ucapan Goliath ketika melihat David,  

“Apakah aku ini anjing sehingga kamu mendatangiku dengan tongkat-tongkat?“.

David hanya membawa satu tongkat, bukan banyak tongkat. Hal ini pula yang kemudia membuat Goliath lama menyadari keberadaan David saat bergerak menuruni lembah dan menuju ke arahnya.

Sementara itu…

David bukan orang biasa. Prajurit perang terbagi dalam tiga kelompok keahlian: infanteri, kavaleri (naik kuda), dan artileri (pemanah/pelempar batu). David adalah seorang artileri. Maka, ketika Raja Saul hendak memberikan zirah perang pada David, ia menolaknya. Zirah itu justru akan menghambat kemampuan besarnya sebagai seorang artileri atau pelempar batu.

Infanteri kalah dengan pelempar batu. Dalam perang, infanteri menang terhadap penunggang kuda. Penunggang kuda dapat menghindar dan melibas pemahan karena gerakan cepat mereka. Adapun pemanah, ia dengan mudah mengalahkan infanteri yang geraknya lambat. Sekali lagi, pemanah mengalahkan infanteri.

Lemparan yang begitu mematikan. Ahli perang Israel coba memperkirakan kecepatan batu hasil lemparan David. Berapa hasilnya? 34 m/s! Kecepatan itu setara dengan tembakan pistol berukuran sedang. Batu dengan kecepatan itu telah cukup untuk menembus tulang tengkorak dan membuat Goliath tewas.

Dengan analisis lanjutan tersebut, ahli sejarah Robert Dohrenwerd mengatakan

“Peluang Goliath menang melawan David sama dengan peluang sembarang prajurit Zaman Perunggu bersenjata pedang mengalahkan lawan bersenjata pistol otomatis kaliber 0.45”

Selama ini kita melihat kisah itu dengan sudut pandang yang keliru. Persepsi keliru kita terkait dengan kekuatan dan kelemahan, seringkali membuat bayangan kita akan cara kerja dunia menjadi kabur. Inilah yang hendak diluruskan oleh buku David and Goliath oleh Malcolm Gladwell.

 

Daftar isi

Buku ini terdiri dari tiga bagian:

  • Bagian Satu: Kekuatan dalam kelemahan (dan kelemahan dalam kekuatan)
  • Bagian Dua: Teori kesukaran yang berguna
  • Bagian Tiga: Batas-batas kekuasaan

Pembahasan pada tiap bagian disajikan dengan kisah nyata dari beberapa tokoh, yang analisanya didasarkan pada kajian ilmiah. Tidak semuanya adalah tokoh yang terkenal, tapi Malcolm secara cerdik merangkai kisah itu menjadi menarik.

Beberapa tokoh yang ada di bahas di dalam buku ini

  • Vivek Ranadive, yang mampu melatih tim basket amatir di Inggris sehingga mampu mengalahkan tim jagoan nasional.
  • Teresa DeBrito, tentang ukuran kelas yang paling efektif
  • Caroline Sacks, tentang kelebihan yang justru menjadi kelemahan
  • David Boeis, seorang pengidap disleksia yang mampu melatih kemampuannya
  • Emil Jay Freirich, cara berpikirnya yang aneh telah membantu menyelamatkan banyak nyawa pengidap kanker
  • dan lain sebagainya

 

Kelebihan

Gladwell adalah penulis yang hebat. Harus saya akui, kemampuannya dalam meramu cerita, memberikan analisa, dan mengolah hasil kajian ilmiah, tertuang begitu apik dalam buku ini.

Gladwell menantang cara kita berpikir tentang rintangan dan kelemahan. Serta menunjukkan betapa banyak hal indah dan penting di dunia ini berasal dari apa yang terlihat sebagai penderitaan dan kesukaran.

Buku ini sedikit banyak merubah cara pandang saya tentang kelebihan, kehebatan, kelemahan, dan kekurangan.

 

Kekurangan

Beberapa tokoh yang disajikan dalam buku ini benar-benar tidak terkenal. Selain itu, konteks bahasannya juga banyak yang tidak sesuai dengan apa yang ada di Indonesia, sehingga perlu banyak berpikir untuk membayangkannya.

Kalau saking tidak tidak sesuainya, dan saking tidak pahamnya saya atas  apa yang dibahas di sana, biasanya saya langsung skip satu topik itu. 

Dan hal itu makin sering terjadi di bagian akhir buku ini. Saya hanya skimming dan tidak membaca utuh bagian akhir buku ini.

Secara keseluruhan, saya memberikan nilai 4 dari 5 untuk buku ini, dan saya sangat merekomendasikannya kalau kamu mau membacanya.

Author: Fajrul

Amateur physicist and science writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *