Akhirnya Mudik Juga (Karena Corona)

Awalnya saya bertekad penuh untuk tidak mudik di masa-masa Corona.

Sebagai orang (berusaha) menyikapi sesuatu secara ilmiah, saya tentu tahu betul kalau mudik di masa Corona itu bisa memperburuk keadaan:

  • Potensi tertular di perjalanan
  • Menularkan virus di desa
  • dan banyak lagi lainnya

Saya pun sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk bahwa bisa jadi saya tidak pulang saat Bulan Ramadhan dan lebaran Idul Fitri:

  • Bersiap dengan membayar kos sampai 2 bulan ke depan
  • Bersiap mencari tempat makan darurat (kalau-kalau kondisi semakin sepi)
  • Saya juga bersiap untuk komunikasi ke Ibu Kos kalau saya mau ikut makan di tempatnya saja—kalau sudah kondisi sangat darurat
  • dan lain sebagainya

Dan sebagai seorang yang senang menyendiri, saya juga enjoy-enjoy saja dengan keadaan yang ada. Yang mengharuskan saya untuk berdiam diri di kamar tanpa banyak keluar.

It’s piece of cake lah buat saya.

Tapi ternyata kondisi benar-benar berubah

Kira-kira tanggal 28 Maret 2020, RW tempat saya tinggal melakukan lockdown secara mandiri.

Jalan-jalan ditutup, menyisakan satu jalan utama saja yang selalu dipantau.

Warung makan tutup.

Bahkan waktu itu, saat hari Minggu saya berkeliling untuk mencari makan dan persiapan stok beberapa hari ke depan… saya mendapati kalau banyak Indomaret dan Alfamart tutup.

Dan mulai saat itu saya sadar kalau kondisinya sudah tidak main-main. Saya panik.

Saya tahu kalau saya panik karena entah bagaimana, ketika di Indomaret yang masih buka (lokasinya jauh) saya beli banyak sekali makanan–yang sebenarnya tidak saya butuhkan.

Tapi ya bagaimana, wong namanya juga orang panik.

Setelah itu, malamnya saya juga bingung cari makan.

Jalan ditutup, dan saya harus jalan kaki untuk melewatinya. Tapi tempat makan juga pada tutup—padahal perut saya sudah lapar sekali.

Akhirnya saya menemukan sate ayam yang masih berjualan setelah berjalan cukup lama (mungkin 10 menit).

Semakin malam, saya semakin takut.

Karena teman-teman kos sudah pada pulang, saya takut kalau saya kenapa-kenapa (mati misalnya) dan tidak ada yang tau.

Bagaimana kalau saya membusuk sendirian di dalam kos? Kan ngga seru. Ngga lucu juga.

Kepikiran itu, akhirnya saya tidak tidur semalaman.

Benar-benar semalaman.

Biasanya saya tidak pernah begitu.

Se-tidak bisa tidur-nya saya, tetap saja saya bisa tidur saat sudah jam-jam dinihari.

Tapi waktu itu, entah bagaimana, saya benar-benar tidak bisa tidur sampai subuh.

Baru kemudian setelah sholat subuh, mengaji sebentar, saya bisa tidur sekitar 2 jam.

Dan akhirnya…

Mengalami kondisi ini (hati tidak tenang, perut kesulitan, dll) akhirnya saya mempertimbangkan opsi untuk pulang.

Kalau kondisinya sekarang saja begini, bagaimana nanti saat Bulan April dan Mei?

Akhirnya, tanggal 31 Maret 2020 pagi saya memutuskan untuk pulang.

Pulang kampung (mudik) ke Pati, meninggalkan kos-kosan yang beberapa hari sebelumnya sudah terlanjur saya bayar sampai Mei.

Padahal saya bisa saja langsung pulang dan tidak bayar lagi karena semua barang saya bisa langsung sekali bawa.

Alhamdulilllah sekarang sudah sampai rumah, dan saya harus mengisolasi diri 14 hari. (Tentu saja saya sangat menikmatinya haha)


Btw, tentu saja featured image di post ini itu bukan foto saya. Fotonya saya download dari Unsplash.

Published
Categorized as Curhat

By Fajrul

Amateur physicist and science writer

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *